waktu..

Berbicara waktu, aku tak mengenalnya begitu dekat.
Bagaimana denganmu kawan ? Apakah kau tahu apa yang paling ia suka ? atau bahkan yang paling ia benci?
Aku, bahkan tak pernah melihatnya

Dia berjalan diamdiam diselasela kefoyan-foyaan kita, atau berderap kencang ditengah-tengah kesenduan kita. Kejam ? Tidak juga, Karena meski begitu, meski sebagian mengharapkannya segera pergi, namun masih ada yang sangat berharap dia untuk tidak beranjak.
Begitu istimewanya waktu, hingga Tuhan menyebutnya dalam kitab suci kita, disebuatkan dalam ayat yang sangat indah sekaligus menjadi pengingat bagi hamba-hamba yang lebih banyak direlung alfa. Sayang beribu bilang, kita tetap saja mengutuknya, apa yang kita bilang ketika waktu telah hilang dari pandangan ?
“seandainya dulu, seandainya waktu itu”, “bisakah kau berhenti sebentar saat ini ?”, dan sebagainya. Beruntung, waktu hanyalah kemayaan nomor sekian, yang bahkan keberadaanya hanya bewujud detakkan angka pada dinding-dinding yang tak mampu membelanya.

Dulu sewaktu masih sangat muda, aku selalu bertanya mengapa banyak sekali nasihat “Tetaplah menjadi dirimu seperti ini sepuluh tahun lagi”, aku pikir itu waktu yang terlalu lama, kenapa kau ingin melihatnya lagi selama itu ? bukankah bisa saja kau takkan pernah berjumpa lagi dengannya ? Dan benarlah kata pepatah, sebaikbaik guru adalah pengalaman sendiri, sepuluh tahun lalu jika aku putar ulang kalender lama ku, kira-kira malam ini aku baru berusia duabelas tahun, usia yang sedang ingin-inginnya juara kelas, usia yang sedang senang-senangnya punya buku diari baru, dan juga usia yang sudah mulai aku lupa, kalau ternyata, Tuhan mulai menyusun cerita pertemuan kita (aku dan kalian) sejak saat itu, atau mungkin sudah jauh lebih lama dari itu.
Namun, disaat aku ingin mengingat semua kisah-kisah yang patut dikenang karena terlalu indah, ternyata aku harus kembali mengingatnya, mengingat ketika aku membuatmu menangis, mengingat ketika membuat ayah-ibu marah, mengingat ketika berat hati mengambil dan melepaskan sesuatu.

Baiklah tulisan kali ini aku tidak sedang berusaha mencurahkan isi hatiku, tapi sebaliknya, aku sedang menuliskan kembali sesuatu pada ingatanku, bahwa, sekali lagi, sekali lagi, aku dan kita terlalu terbawa suasana, menjalani waktu seolah besok masih ada didunia. Aku ingin menata kembali sesuatu yang aku lupakan yang tidak pernah aku sadari bahwa alam sadarku menghapusnya, serta sebaliknya, aku juga ingin menghapus sesuatu yang bahkan alam bawah sadarku selalu menghantukannya untukku. Bagaimana denganmu ?

Setelah sepuluh tahun dari usia duabelastahun itu, aku kemudian mampu mengambil sepatah kata untuk menjadi senjata pendamai kegelisahan dan penenang kegembiraan dari tiap letupan waktu yang beralur terlalu dramatis semakin kesininya.
“Apa yang hari ini kita lalui, adalah kehendak Tuhan, dan waktu yang menerjemahkannya, kau berbuat salah, kau terlalu buta karena suasana, atau kau diamdiam tak sadar membuatnya menangis, bahkan kau yang sangat tidak tahu kapan pernah membuatnya terpanah, biarkanlah, biarkan saja, seperti waktu yang kita biarkan berputar, besok lusa, jika waktu berkenan dia akan kembali menerjemahkannya, entah sebagai kenangan atau sesuatu yang akan kau buang. Dan apabila sangat berat menitihnya, tak lain tak bukan kau hanya bisa menghadap pada Tuhan, yang mencipta, bukan untuk menghentikan atau mempercepat waktu, tapi meminta agar kau, aku, kita melapangkan hati, dan menyadari lagi, bahkan waktu kita memiliki batas untuk akhirnya berhenti”

Kita tak pernah tahu bagaimana waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, atau bahkan menanyakan jawaban-jawaban kita. Bagiku, waktu adalah penerjemah ulung, dia mampu membuat kita melepaskan sesuatu yang bahkan belum pernah kita pegang, dan sebaliknya..

Duaribudelapanbelas, terimakasih sudah datang sangat cepat, kau membuat aku, bukan, kami, tumbuh begitu cepat, hingga aku hampir lupa bagimana dulu rupa jumpa pertama dengan mereka yang sudah bersedia mengenal dan kukenal. Dan mengapa kami tak bisa melupakan bagaimana kita berjibaku dengan semua drama yang seolah akan merenggut nyawa. Aku tak tahu, sampai malam keberapa aku dapat mengetik sesuatu yang tak terlalu berguna seperti malam ini, tapi, tapi waktu, maukah kau berteman barang sekali, tak masalah bila kau tetap membungkam diri, setidaknya, peganglah pundak kami, sebentar saja, untuk membisikkan ini

“Tak masalah jika bukan hari ini, aku akan datang lagi besok, untuk waktu yang tepat, karena tepat waktu kadang tidak selamanya berkat”

“Bertahanlah, sebentar lagi, aku akan mempertemukanmu dengan yang lebih baik”

-Bengkulu,020818-

Advertisements

Pondok Bulat nomor 911

Baiklah, aku tidak tahu bagaimana memulai sebuah postingan kecil untuk orang-orang seperti kalian, aku juga tidak berharap terlalu banyak, menyenangkan hati kalian yang saat ini, sedang lelah-lelahnya, bukanlah hal mudah, aku sangat tahu. tapi, jika kalian berkenan, coba sisihkan sedikit kesibukkan kalian, untuk sibuk membuka dan membaca tulisan singkatku, aku mengetiknya disiang yang cukup terik ini, tepat ditengah-tengah kamar kalian, bersama segelas kopiku dan sebait dua cerita pertemuan dan persahabatan kita.

-Dari mamay tu, ul, cik, mut, dil, tris, li, bel, dari kamar 9 yang sekarang 11, 911 :)-


aku selalu penasaran bagaimana aku dimatamu. aku penasaran juga dimana aku dimatamu. karena aku tahu aku bukanlah yang selalu pertama mengenalmu, tetapi sebagai orang baru yang mencoba melengkapi catatan hidupmu, dan aku minta izin untuk masuk dan bertamu. tertanggal sekitaran 17an agustus 4 tahun yang lalu, bumi seolah memainkan perannya apik sekali, kali ini dia sedang ingin menunjukkan kuasa Tuhannya. seolah dia ingin bilang, “lihatlah bagaimana jika Tuhanmu menggagalkan inginmu, atau, lihatlah bagaimana nikmatnya mempercayai Tuhanmu saja, atau, inilah jawaban atas semua doamu, atau bagaimana jika aku ingin kau menjadi salah satu dari mereka yang ku percaya untuk memberikan hidayahku ?” sesuatu yang sangat lekat dengan kita kan ? sewaktu Allah kemudian tidak mengizinkan ratu jadi polisi, atau membuat kak mut dan dila harus sabar setahun dulu, atau hanya mengizinkan bella trisna lia dan aul untuk bertemu dengan kita disini saja, atau mungkin jawaban atas kepasrahan mamay dan ucik setelah berjuang sematimatinya setamat sma. tebak-tebak berhadiah kemudian tidak berhenti disana, bumi seolah mengulurnya sedikit demi sedikit, dibuatnya kita tertarik, terikat dan kemudian larut dalam banyak hal. ah jika diulang, harus berapa lama kita membahas perbedaan bahasa, atau kemudian menahan diri karena perbedaan budaya, itu sangat lucu :’), sesuatu yang sangat menyenangkan untuk sulung sepertiku. bagaimana dengan kalian ? empat tahun yang lalu, aku tak pernah meminta Tuhan untuk memilahkan siapa saja yang boleh mengenalku, bahkan mendekatiku. aku hanya bilang “ya Allah, jika boleh, maka nanti pertemukan aku dengan mereka yang menyayangiMu, dan membuatku semakin MenyayangiMu karena mengenal mereka”, dan Tuhan menjawab semua dengan tuntas. aku mengenal dan dikenal kalian semua.

kita sepakat bahwa 18 tahun bukanlah usia yang menjanjikan kita mampu untuk mengadaptasi semua dengan baik, adalah ego, berperan terlalu dominan, yang sampai siang ini pun (masih) sedang tumbuh-tumbuhnya, hingga 1 2 hari pernah kita tak bertegur sapa atau lontaran amarah dikolong komentar status media cuma karena remahremah drama. jika kau mengingat-ingatnya kembali, tertawalah, ternyata kita pernah seperti remaja yang lainnya hahah. aku bersyukur menjadi salah satu saksi kalian berubah posisi menjadi kepala dua, hal-hal sereceh itu yang saat kalian baca ini mungkin terlalu dilebih-lebihkan menurutku sangat istimewa. ah ya, aku ingin berterimakasih untuk kueku di 18tahunanku dulu, jika aku boleh jujur, itu kue ulangtahun pertamaku, hahah. setelah malam itu kalian pergi kekamar kalian masing-masing, aku menangis sendiri, seolah bilang “ini rasanya dihadiahi teman sendiri, terimakasih” wkwkwk.

siang ini panas sekali, sama seperti panas ketika kita baru jadi mahasiswa :’). aku masih ingat, bagaimana kita sangat mampu bekerjasama sewaktu diteror senior, menjadikan kosan ini centernya tentir kuliah, atau tempat nginep paling mantep kalo besok mau mingggu kelima. tumbuh, tertawa, dan sesekali berduka dengan kalian adalah halaman-halaman yang menyenangkan. tahukah kalian, aku selalu belajar terlalu banyak hal dari kalian. dulu sekali, sewaktu aku masih sendiri eaa, bukan-bukan, maksudku sewaktu aku masih sma, aku akan sangat membesarkan hal-hal sederhana  yang menjadikannya alasan untuk diperdebatkan, tapi kata fadillah dulu, dulu sekali sewaktu semester 1 (jaman porsema kita kalau tak salah), sewaktu aku ingin sekali membalas sindiran orang, tiba-tiba “may, may, diem ajo may, seloo, dengarkan ajo dulu” terus aku balas “tapi dak biso dil”, dan dila cuma mengulang, “maay”. dil, kau mungkin tidak akan menyadarinya sampai membaca bagian ini, tapi, tangan kanan kau yang menghentikan ku, lalu tatapan kau waktu itu tepat menusuk amarahku, dan aku berkata pada diri sendiri, “sudah saatnya may, kau setenang ini, makasih dil, ini ampuh sekali”. dan tiap kali aku ingin menghardik sindiran seseorang, aku akan mengingat tatapan kau waktu itu, selalu, aku tak berbohong.

juga sewaktu aku sangat kagum melihat reaksi dari kak mut, yang dalam beberapa hal, dia memaklumi banyak hal, dan terlihat seperti mudah memaafkan aku, kita, yang sangat sering tersulut amarah. dia berlaku sangat dewasa diwaktu yang tepat, disaat kita berpikiran sangat sempit. dan kak mutlah yang pernah membuatku menangis sekaligus menyesal telah sering mengabaikan kalian kemarin saat aku sedang lelah dengan drama sekolah ini. “maya dak apoapo may ?”. pertanyaan ini disore itu kak mut, membuatku yang siang ini mengingatnya lagi. tersenyum tipis, dan …. (kau bisa tebak sendiri).

(ah ini terlalu melo drama, maafkanlah hahaha. ah ya aku melanjutkannya sampai malam, sepertinya akan sangat panjang)

seperti buku catatan kuliahku, kalian memiliki halaman tersendiri mendidik dan menyayangiku. yang membuat aku kemudian mulai tertampar, bahwa ada baiknya berjalan membuka tangan dan mengizinkan beberapa sela dijemariku kemudian diisi, minimal ketika aku sedang sangat jatuh, atau, ketika kalian mungkin membutuhkan tangan mungilku. tu cik, terimakasih untuk hal ini. keakuan yang terselubungi dibalik topeng gelar sulungku lebur sudah. sebenarnya aku tak pernah menorehi banyak hal setiba aku disini, hingga dua hari itu datang, kemudian aku terbangun, dan berteriak lirih, “Ya Allah, kuatkan aku selalu, agarku mampu menguatkan kembali mereka ketika kekuatan mereka hilang tak bersisa”. baiklah, aku tak berpikir untuk membuat kalian malam ini menggigit bibir menahan beberapa hal yang tak perlu aku tuliskan. tapi, tapi cik tu, hari itu, sungguh, aku berjanji untuk bertaruh jiwa dan waktu, aku takkan mengacuhkan mereka yang hidup denganku dan lebih mencintai merekaku ditiap waktuku :’). ah ya, aku juga berharap akan bertemu dengan seseorang yang akan mengatakan hal ini (seperti kalimat papamu ke nenekmu tu sewaktu tiba di muko-muko hari itu) “buk, maafkan aku ………” (kelanjutannya itu punyamu tu, semoga kau paham maksudku).

banyak hal kemudian aku sangat irikan dari kalian, salah satu sewaktu kalian dengan sangat mudah bilang “rindu” dan “cinta” dengan mereka yang sedang dirumah kalian. aku selalu percaya hal-hal itu bisa menyeruak hinggap lewat tingkah saja, tapi, tapi lahat bengkulu bukanlah tetangga lima langkah, tabu sekali untuk  menyatakannya, jujur saja. sampai saat aku mengetik ini aku mulai belajar untuk mengatakannya, meski hanya lewat rengekkanku kemarin diakhir tahun lalu, “pak, nak balik nian”. dan cik, ul, li, bel, kalian yang pernah ku dengar langsung dengan lantang mengucapkannya, fasih tanpa spasi, ajari aku lagi, untuk mengatakannya bukan mengetikkannya. salah duanya, untuk lia, cobalah sesekali kau ajari aku li, untuk sedikit melapangkan dada tak gampang marah, meski ucik dan kak mut bertubitubi mencaci :’D

bicara soal sekolah, kalian idolaku, aku berterimakasih banyak telah mau menjadikan aku teman diskusi meski sebenarnya lebih banyak memaksa wkwk, maafkan pertanyaan-pertanyaan anehku, maafkan ketidak rapianku, maafkan tulisanku, maafkan cara bicaraku, dan maafkan juga masih sering menangis cuma karena tak lulus ujian praktikum, aku masih sangat muda saat itu, masih sampai malam ini. tapi cobalah berbaik hati lagi, aku masih membutuhkan diskusi sengit cuma untuk sebuah pertanyaan “kenapa begitu?”. ah ya, aku hampir-hampir lupa, bagaimana dengan semester delapan ini ? agaknya menyenangkan, karena sudah terlanjur basah ya (kecuali ucik), hidup kadang terlalu senang bercanda hahaha. tapi tak apalah, ada kalanya kita menunda sesuatu yang mungkin berhadiah mewah atau menegur salah kita, ketika doa dan keringat yang kemarin terlewat, sia-sia tak bersisa, semoga saja.

kalaulah ku mau untuk mendektekan apa saja yang sudah kita tangistawalelahkan demi dua huruf didepan nama nanti, drama korea mungkin sudah lama kalah. dan aku juga tak mau hahaha. darilah nulis ltm pas mati lampu, belajar buat ujian praktikum pas berita siaga 1, sumatif cuma berkelang 1 hari, ujian praktikum 10 biji, kkd dilanjut dimodul lain, sempat nari-ngemsi-jaga delegasi pas ujian pdpt, sedieman dengan kating sekosan, dan lainlain sampai sekarang ikut jaman kekinian, datang kekampus cuma buat revisian, kalau dihitunghitung, waktu ternyata berjalan diamdiam :’)

Dan untuk perkaran cinta dan cita, aku takkan pernah campur tangan, karena aku cuma punya dua dan sudah cukup untuk mencampuri punyaku sendiri. aku menyetujui yang membahagiakan kalian, mendukung semua yang menyenangkan kalian, bahkan menghormati keputusan yang menggembirakan kalian. setidaknya, sekali dua aku belajar dari pengalaman retorika romansa kalian wkwkwk, bahwa yang mampu bertahanlah yang akan jadi pemenang, karena menunggu bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi menunggu seseorang tamat sekolahnya, ya kan ul tu tris li dil ? bertahanlah, besok-besok jika tak meleset kita akan benar-benar berseragam kuning atau kepesta topeng :’). dan aku pun berjanji untuk mencari yang tak goyah, yang mau diajak berdamai dengan jarak pun waktu, wkwkwk. ah ya, aku sangat berterimakasih untuk kalian yang sudah mau menunggu denganku meski hampirhampir layu, cik, kak mut, bel, aku selalu percaya, ada yang saat ini sedang belajar bijaksana untuk menaklukkan hati kita eaa haha. pesanku Bel, yakinlah takkan lepas dia jika kau tak mau melepaskannya, kita cukup merayu yang punya. kak mut, sadarlah, dia sebenarnya dekat jika kau mau sebentar saja sadar kalau kadang yang dekat ingin mendekat. dan cik, semoga saja besok yang datang tidak cuma berani sebatas pagar depan rumah ya cik, tapi sampai mengetuk pintu dan bilang, “pak, boleh saya pinjam sucinya”, wkwkwk.

hmm, aku tak bisa deskripsikan kalian terlalu banyak, karena aku ingin melanjutkannya esok esok lagi, sewaktu pulang wisuda, ketika lagi jaga, atau sehabis keluar oka, atau selepas sumpah, atau mungkin setelah berdua hahaha. jangan kemudian kalian berduram durja karena aku tak menceritakan kenistaan atau keindahan jiwa kalian disini satu demi dua, sudah ku bilang ini tidak berakhir disini, besok, aku akan membungkam kalian dengan cerita penuh emosi lagi. sebab ini sudah tengah malam dan kalian masih bisa ku pandang diluar jendela.

ah ya kalian sedang apa ? semoga besok sangat cerah, setidaknya dia menyumbangkan kinerjanya untuk membangunkan kita dari kelelahan ini. aku tahu ini masih sangat panjanjang dan berat, tapi tak apa, kita sudah biasa :’). besok pagi jangan tertawakan aku, ini cuma sebatas pembuka, sebuah surat yang akan menjadi episode selanjut-selanjutnya, sampai jadi drama, sampai jadi sejarah :’).

aku rasa kalian sudah bosan dan lelah, baiklah, ini pengakhirnya. tutuplah halaman ini dengan senyuman sambil mengingat bahwa sudah banyak langkah teranyam, bilanglah lelah, tapi bukan menyerah. Besok, akan indah, yakin saja. Dan, hari ini, alhamdulillah sudah dilewati lagi :’)

maya novinasari, 240218

 

 

Kahyapu-2017

Ya uwaika

“May, kita sudah sampai..”

Well, bismillah, dibawah ini nanti akan kusertakan semua tumpah ruah yang terjadi dienggano, salah satu pulau terluar dibagian selatan indonesia, pulau kecil yang menyenangkan :’)

Juli dihari kedelapan belasnya, setelah melewati semua doa tak berfaedah, kabar burung yang terbang entah darimana dan kemana, dan digantung janji yang tak pasti akhirnya 39 mahasiswa calon berjasputih ini dihanyutkan kesebrang pulau hindia. Judul perjalanan ini sebenarnya adalah kkn, tugas mahasiswa akhir yang niatnya buat nyadarin kami, kalo ilmu yang uda banyak lunturnya ini sedikit banyak sudah bisa disentuhkan langsung sama masyarakat, dan karna judul ini fakultas adalah kedokteran, nambah la niatnya jadi “pengabdian” :’D

Diantara 39 yang berlayar, aku tak yakin ada yang berniat bersungguh-sungguh pergi kali ini, sebab kami meninggalkan begitu banyak drama yang belum tanggal, berkat keberanian yang tak utuh dicampur kewajiban yang dirasa sangat mengganggu saat itu, jadilah kami menyediakan diri untuk berlayar. dan padahal kami tak pernah tau, bahwa enggano bukanlah pulau kecil penuh nista, tapi ahahaha mari kita mulai melodramanyaa….

Check it out.

Enggano, salah satu kecamatan kecil dari bengkulu utara, dipimpin oleh seorang lakilaki turunan enggano asli, bernama singkat penuh makna “pak marlansius”. “haloo pak apa kabar, maafkan saya menggunakan nama bapak ditulisan receh saya kali ini, untuk memberitahu temanteman saya kalau bapak telah menjadi sosok yang masuk terlalu dalam dalam ingatan kami, hehe”

Kahyapu, kaana, malakoni, apoho, meok, dan banjarsari, deretan nama desa yang ditulis di masing-masing 6 kelompok kami, ungkapan pertama kemarin sewaktu mendengar namanya “waw asik tuh namanya” haha, ah tapi pak jaya bukanlah yang pertama menyebutkan nama-nama itu kekami, sebab, sejak kabar tak sedap itu menyergap, kami uda kepo duluan, dari ngepoin enggano bentuk pulaunya gimana sampe kalau mau BAB disana pakek apa :’D. Seperti kabar wikep tahun 2003 (14 tahun yang lalu ini sumber) enggano masih dalam pertumbuhan. Listrik masih merangkak dari nyomot matahari, airnya ada tapi ngalirinnya yang masih dipikirin gimana caranya, jalan raya yang nyediain arena oprod, terus mereka ga nyebutin ikan tapi ayam, ayamnya ada tapi hidup semua hahah, dan segala inspratuktur yang semuanya masih dalam tahap “pembangunan” alias banyak yang “masih dalam kertas perencanaan”. Beruntungnya ga ada cerita kuntilanak ataupun pocong nongkrong diwikep haha, tapi yang ditulis malah fauna melata yang saban hari nongkrong didermaga atau bocan dirawa-rawa. Berita “tidak mengenakkan” ini cukuplah menaikkan pitam kami sewaktu keputusan berangkat diacc.. harapharap semua batal, semua intrik dan regulasi pelik kami ajukan, tapi Allah seperti ingin memberikan jawaban terbaikNya untuk kami, ketika kami meminta agar tak pergi, Allah mengabulkan sesuatu yang lebih dari sekedar tak jadi pergi.. kami dibuat ingin pulang kesini lagi..

DSC00991

Pukul 9 pagi, hari rabu, aku ingat betul, setelah kapal bersandar tepat didermaga kahyapu (waktu itu kami belum tau kalau dermaga ini kahyapu punya haha). satu persatu turun menjinjing perkakas antik mereka, termasuk aku dan ke-6 kawan sesekreku, oh ya aku hampir lupa, kami dibagi jadi 6 kelompok kan ya, dan maya dikasih dikelompok pertama dan itu berarti kami turun pertama didesa pertama setelah dermaga..

Laut biru, angin kencang, langit biru, awan putih, layaknya pantai dan dermaga kebenyakkan, gitulah kesan pertamanya. kalimat pertama ketika menginjakkan kaki didermaga “sampai may di enggano, welcome..”. dengan semua mahaberantakkan muka saat tiba dikantor dermaga, kami mesti berpikir untuk bisa sampai disekre masing-masing. Beruntungnya kami yang dapat kahyapu, “katanya” deket sama dermaga ini lah. Hamdallah.. bincang temu bincang akhirnya dapat keputusannya, yang pakek motor akan membonceng segala sesuatu yang dapat dibonceng, dan sisanya akan dinaikkan dalam pick up. Ini pick up pertama yang kami naiki (kayaknya).. ada sekitar 20 wanita muda lelah nan berantakkan yang naik pick up hitam waktu itu.

Rabu pagi itu, kami sampai entah bagaimana caranya didesa masing-masing. setelah melewati semua ramah tamah dan kerepotan memasuk dan menata barang disekre, niatan tidur saat itu tidak pernah menjadi nyata hingga tulisan ini release hahah, anak gadis bernama novi, cewek cantik pertama yang kami kenal disana telah berani mengajak ke enam anak yang masih mabuk laut ini untuk bertamasya ke binaria, oh bukan bukan haha, ke apoho, karena ada lomba voli (ini awal cerita tutu yang akan jadi atlet legendaris selama 2 minggu nanti)…hari berlalu, dan semuanya kemudian berlalu…

Dimulai dari niatan yang ingin jogging tiap hari dari sekre ke dermaga (sambil berniat numpang makan dirumah orang) terjadi hanya sekali, lalu dilanjut tidur dengan pintu rumah tak pernah tertutup rapat, kemudian disusul lampu yang enggan nyala (karena minim lampu diminggu awal tiba), dan keesokkan paginya membesarkan hati dan membiasakan diri mandi di anak sungai belakang rumah buk novi (duh bapak ibuk apa kabar ya sekarang ?). Minggu kedua, barulah kita tamasya, ceritanya cari lauk pauk sebab persediaan mulai habis, diajaklah kelaut buat menjaring, korban pertama angga demam bada menjaring 60 ikan cabe-cabe –besok besok lusanya ratu nyobain ditusuk duri cabe-cabe walhasil jadi korban juga ya tuu-. Ikan cabe-cabe, dan semua temantemannya, kami lahap gratis entah bagaimanapun cara dan rasanya disini.  dan untuk pertama kali, mut tacu dan tutu pulang malam karena orgenan haha. Minggu ketiga, kami sibuk berkkn gadungan, termasuk akhirnya mengerti, bahwa didekat kami masih ada yang ingin disentuhi. Minggu keempat, sebelum pulang ke Bengkulu, kami berhasil berlayar ke 2 pulau, pergi dari ujung kahyapu ke ujung banjarsari. Dengan semua drama dan pesona alam semesteta di sepersekian daratan ciptaan Tuhan…

Jemuran, tebu, dogan, aspal, lampu, lotek, pop-ice, mie ayam, dodo, bubud, novi, reno, riska, pak khotib, ibu lotek, ibu novi, bapak novi, mete novi, mantan-mantan reno, adi, john, kapal-kapalam john, abang-abang kahyapu, teteh, aydil dan teman-teman, nyai, pak cucu, biawak, ikan cabe-cabe, pulau dua, merbau, pedipo, bakblau, doa-doa yang selalu diijabah, dan lain-lain ku rasa lebih berhak bercerita tentang kerecehan kita diruko pak kades yang sekarang kabarnya tak da lagi…

Hmmm, kalau maya mau ceritakan semua tentang kkn enggano disini, nanti ga cukup gengs (kita buat novel aja haha), biarkanlah semua yang pernah terjadi menjadi cerita kecil disepersekian buku harian kita. bukan gamau cerita, tapi menurut maya, semoga dengan sedikitnya coretan maya ini, ketika kalian membacanya kalian akan membayangkan cerita kita cerita kalian sendiri dengan hati kalian masing-masing.. tak akan sedap lagi jika semua harus diuraikan.

Kata bapakku kawan, kau tidak akan pernah bisa menebak seseorang jika tak pernah satu kopi dengannya. Aku hampir-hampir tak pernah percaya, sebab kawanku tak banyak yang suka kopi kayak aku. Hmmm, dalam keseharian di enggano, dengan semua kesibukkan (padahal ga sibuk hahaha), kalian yang menjadi keluarga secara tidak sengaja telah berdampak terlalu besar dalam hidup perkknanku . Bukan karena kalian memang teman 1 angkatan atau calon sejawat saja, tapi lebih dari itu, kalian mampu membuka sesuatu yang selama ini sering tersingkap oleh kekakuan. dan hal-hal kecil yang coba kalian ajarkan lewat kata ataupun tatapan mata. sosok-sosok yang sebagian “aku kenal” sebatas teman diskusi, teman kkd, teman kelas, dan teman seangkatan. tapi lihatlah sendiri siapa kalian setelah 30 hari (banyak kurangnya) dienggano ….

Ratu, rani, ija, tacu, mut, angga, terimakasih banyak telah menjadi teman kkn yang rame, bahkan sampai hari ini. Tu terimakasih kesabaran dan kelembutan juga pelukannya hari itu. Ran terimakasih banyak masakannya, maafkan semua kegoisanku, terimakasih banyak kentutnya, tetaplah PD seperti diruang tamu sekre, abaikan jika banyak tak suka asal kita bahagia dak ran (“oi cobalah aku ni tinggi dan cantik kalu la jadi penyanyi terkenal aku”, pernah la kau bilang ini kemarin semoga kejadian suatu hari nanti, minimal pas diacara resepsi). Tacu, terimakasih banyak ajaran bedak handbody shampoo nya (sangat berguna), terimakasih banyak ocehannya karena jaket dan handukku haha, dan terimakasih banyak telah mengaminkan bersama angga dan ija haha, dan maafkan kakiku ditiap malam kita terlelap kemarin lalu. Ija kau luar biasa, cantik dan atletik, tetaplah seperti kemarin dan nanti ja, “cewek itu mesti bisa mandiri kalo prinsipku gengs, bisa pegang lipstick lihai juga pegang setir”, ah ya makasih sudah mau jadi cupir bareng yaa. Mut terimakasih banyak masakannya, terimakasih banyak keanehannya, terimakasih banyak telah mendewasakan meski sesaat (lebih banyak yang tak karuannya). Dan angga, terimakasih telah melindungi kami, terimakasih sudah ngangkatkan air, terimakasih sudah mau menemani siapa saja kapan saja, terimakasih sudah sok bijak dan sok laki selama tengah-padang dan kahyapu, dan jagalah ija sebaikbaiknya dan semampumu.

Ini kalimat penutupnya, tulisan ini sudah sangat lama tersimpan sebenarnya, maafkan kealfaanku untuk membumikannya, selepas kalian membacanya kalian bebas mau kemana lupa juga tak masalah, tapi jangan terlalu terbawa suasana, berat biar aku saja :’D. Ah ya setidaknya, besok-besok, jikalah kalian sedang tak tahu mau menghabiskan kuota kemana kalian bisa berkunjung lagi, dan mengingat kembali, bahwa pendidikan panjang ini pernah ada manisnya, disepenggal surga yang tersembunyi, tepat dihulu pantai pulau sumatera bagian selatan. aku berharap bisa tertawa bersama seperti di pulau dua juga menangis bersama seperti dimalam-malam terakhir sebelum kepulangan. Dan mari berjanji, entah 2 3 tahun lagi atau bahkan 10 tahun lagi, kita akan berkunjung lagi, setelah berjas putih, kembali menapakkan kaki, dan bersilaturahmi.

Untuk semua hal yang terlewat dan belum sempat lewat, maafkan aku, dan terimakasih banyak..

Selamat malam Bengkulu, 190218

 

dia sedang tak baik-baik saja

bilalah besok kau lihat dia masih senang bercengkrama

dengan tema dan prosa sama rupa,

berhati-hatilah !!

pertanda dia bersembunyi dalam langkahnya,

karena dia sedang tak baik-baik saja…

dan seharusnya, yang baik semestinya tak mengikat masa,

tak mengikat cerita dikepala

tak mengikat jiwa tersiksa

sampai pemiliknya tak beribawa

mendongengkan hariannya..

dan jika kau pangkuannya

ajaklah dia membeli sebilah pisau

untuk menuntaskan kesenduan semunya

tawa dalam maya, tak pernah

tuntas bahagia

Selamat Malam Jogja-Bogor

hai, sedang apa ? malam disini sudah sangat gelap lagi hangat. qo am, dibawah ini akan aku sertakan beberapa hal yang membuat aku malam ini, merindukan kalian. mari kita mulai kealayan ini, ku peringatkan untuk tidak terlalu terbawa suasana, karena berat, biar aku saja. :’)

——————————————————————————————————————————–

aku sering bertanya, bagaimana rupaku lima sepuluh tahun lagi, dan siapakah yang akan berada tepat disampingku ketika aku sedang jatuh cinta dan terpuruk karena urusan dunia yang tak bersudah ? pertanyaan ini dimulai ketika aku mengenal tentang sesuatu berbau “persahabatan”, dipenghujung kelas 3 sekolah menengah pertama. birunya membuat hari itu sangat sendu, untuk pertama kali, aku berkata sampai jumpa dengan penuh rasa, pada mereka..

pertanyaan ini tak lantas terjawab begitu saja, hingga lima tahun berikutnya, 2014, mereka yang pernah bersama-sama denganku satu persatu merajut asa dan cita juga cinta, dan aku disini, memilik mereka yang lain lagi, bukan pengganti tapi penyempurna :’)

adalah ilham billy nugraha mereka yang baru dan robitur rizqo sebagai mereka yang telah lebih lama :’)

mereka bilang kan, jodoh dan dijodohkan Tuhan memang selalu indah, seindah kalian berdua. jikalau aku diminta mengetikkannya bait perbaris semua hal tentang kenaifan kita, rasanya terlalu melelahkan hahaha. biar saja menjadi bait-bait yang berbeda dalam diri kita. biar esok lusa pun jika jarak dan waktu kembali tega, kita hanya perlu membacakan bait itu pada anak cucu, bahwa, masa abu-abuku, abu-abumu, abu-abu kita tak seabuabu awan mendung diawal shubuh :’)

untuk kalian yang tak sengaja membuka halaman ini, akan ku beritahu beberapa hal tentang mereka, sehingga lepas kau menutup halaman ini, kalian bisa membayangkan bagaimana rupa dua orang ini, sehingga kesimpulan tentang pertemanan yang lebur karena jarak dan waktu tak dibenarkan.

 

———————————————————————————————————————–

-ilham billy nugraha-

jika kau ingin bertemu, cobalah cari kaum aktivis di fateta IPB, orangnya tak terlalu tinggi hahah, -kemarin gemuk-, putih, mukanya bulet kayak bakso, dan lesung pipitnya menjorok sangat dalam, dibalut kecerdasan speak dan kharisma mantan petinggi fateta, berhasilah dia menyiksa batin wanita yang tak sengaja terpeleset jatuh dalam perangkap bujuk rayu semunya -eits jangan kau sangka dia sangat genit dan sering mengunjungi hati tanpa pamrih, tidak, dia sekarang tidak lagi seperti itu, namun tatapannya dan bahasa tubuhnya mengisyarat sebuah makna, memunculkan decak yang pabila tak bisa ditapis, matilah kau tergila-gila-. apa yang selalu dia keluhkan tentang “kasus rayuan semunya ?”.. “may, apo salahku coba ? diam dikato sombong, negur dikato pdktan”. aku cuma bisa jawab ” risiko bang, risiko terlalu tampan”. (kalimat terampuh untuk membuatnya tidak bertanya hal yang sama -meski sangatlah kadang terpaksa mengatakannya- maafkan daku am :D).

semua hal tentang ilham perlahan tapi pasti ku kenali seiring berlalunya kelas 10, entahlah apa saja yang pernah tercatat, aku tak ingat terlalu lekat, hanya beberapa, semisal ilham yang tak pernah sungkan duduk berdua menghabiskan sore di pelataran kelas cuma untuk berdiskusi halhal receh, atau ilham yang tak pernah malu untuk bermain lempar rumput ketika menonton tanding voli antar kelas sewaktu classmeeting, atau ilham yang tak pernah mau kalah kalo soal nilai rapor -,-, atau ilham yang tak pernah sungkan untuk duduk diam mendengar temannya mewek karena rangkingnya turun, atau ilham yang, yang tak berpikir 2 kali untuk menolong temannya karena tak sadarkan diri saat dirasuki 😀 (ini soksweet banget sumpah am). ilham yang selalu ambisi, ilham yang selalu sok lucu sok dekat dan sok asik, ilham yang gampang marah kalo lagi mau marah, ilham yang mau aja di ajak ngalay, ilham yang lainlainnya am hahaha. tahukah kalian, sampai malam ini, aku tak pernah mengingkari semua pesonanya, meski tetap masih banyak “tapi” hahaha. dan tahukah kalian, banyak pertanyaan mulai berubah sejak kami tak lagi di meja yang sama, ilham adalah sosok yang cukup mampu menangani pertanyaan-pertanyaanku seputarrrrrr, -lelaki-, dan bagaimana rupa pemikiran mereka. sehingga ketika kini aku yang terlalu sering tersesat sedikit banyak diarahkan, minimal, untuk kemudian sadar, bahwa “semua lelaki itu sama may, kecuali ayahmu sendiri” dan “aku pun dia juga sama may, samasama orang yang mampu menyakiti meski kadang kami tak sadar telah banyak menyakiti anak gadis orang, jadi banyaklah hati-hati”. am 🙂

am, kau sekarang sedang apa ? tak banyak perlu ku tahu kau sedang sibuk apa, cukuplah kau sehat selalu dan bahagia selalu. pun lah banyak lelah maupun intrik kehidupan ini yang sangat menggelikan, tantanglah seperti biasa, ah ya, aku selalu percaya, bahkan kau selalu mampu menaklukan apa yang kau mau. besok lusa am, jika pun kita bertemu lagi, kuharap tak lagi berisi pipimu, berat, biar aku saja 🙂


-robitur rizqo-

apa yang harus aku beritahu tentang wanita ini ? seperti wanita tasik kebanyakan, lembut, sangat sopan, dan cantik, menurutku cukuplah untuk menggambarkan dirinya. jika kau penasaran, coba main ke uii, cari cewek teknik yang hobi pakek rok panjang dan hobi jalan-jalan lintas negeri, katanya ketika tahun lalu bertemu denganku “salah satu cita-cita iqo tu may, biso keluar pas 20 tahun nanti”. dan doa Hamba yang tak pernah lelah meminta akhirnya terjawab manis dak qo, meskilah 22 perjalananmu aku hanya bisa lihat hanya lewat chat wa, tapi aku turut bahagia. untuk kau ketahui qo, kepergianmu selalu ku bicarakan dengan temanku, adikku. untuk mengingatkan mereka bahwa aku memilikimu, yang sangat jauh disana, sedang sangat membara mengejar cita.

sudah hampir 10 tahun qo, hahah, kaulah penjawab dari sebuah pertanyaan recehku dulu. terimakasih banyak sudah mau tinggal dibuku diariku selama ini. dan menjadi salah seorang saksi, maya tumbuh perlahan tak pasti hahaha. kalau-kalau ku ingat bagaimana kita bertransformasi, sangat menyenangkan. sewaktu dulu sering jalan-jalan ke “SM” belanja ikat rambut lalu di beberapa tahun berikutnya kita ke toko sebelah, jajan jilbab buat kesekolah. masih hangat dalam ingatanku, sewaktu kesekolah naik ojek bedua, ngetem angkot rame-rame, tinggal diasrama (meski ga pernah seasrama 😦 ) dan tahun lalu dirimu sudah mahir memboncengku hahaha. beberapa obrolan kita juga tumbuh, dari mulai cuma sebatas aritmatika dan rangking sekolah, sekarang lebih pada “mau jadi apa” dan tentang si dia hahaha.

(duh aku bingung mau kulanjutkan seperti apa, hahahha)

robitur, yang orang selalu segan, yang banyak suka tapi ga pernah ada yang berani bilang, robitur yang selalu jadi kesayangan guru sewaktu smp, robitur yang mulai nakal semenjak asrama, robitur yang pernah jadi bulan-bulanan jaman senioritas, robitur yang tulisannya bagus, robitur yang bisa sangat manja sekaligus jadi terlalu tua, robitur yang takut binatang melata meski cuma gambar dibuku biologi, robitur yang dulu sering cemburu sama yuk ana, robitur yang seneng ngobrol dekat kolam, robitur yang seneng dengerin keken main gitar, robitur yang, yang aku panggil ketika hari itu, sewaktu aku hanya ingin dia yang menuntunku membaca alquran lepas dirasuki habishabisan. robitur yang bisa menembak tepat kesesatanku, “may, ini bukan waktunyo untuk bingung memikirkan sesuatu yang belum saatnyo, coba maya pikirkan lagi untuk apo maya disano, berjanjilah untuk tumbuh lebih dewasa dan tidak bodoh karena hal-hal yang “maya””, robitur yang sering ngomong sombong, robitur yang telponnya sering lupa kuangkat, kawan membully ilham di wa sekaligus yang paling sering left grup wa, dan robitur yang, yang lainlain….

qo, beberapa waktu ketika aku mulai lelah dengan semua drama tak bersudah ini, aku rindu berbincang dikolam denganmu, pernah aku niatkan barang sekali dua, sengaja pergi melihat kolam dikampusku, duduk sendiri dan berbicara sendiri, “qo, sudah bolehkah aku lelah? ini tak kan bersudah, ah ya kau sedang apa ?”. melihatmu begitu bergairah menuliskan satu persatu citamu aku iri setengah mati. tapi tanpa disangka hal itulah yang membuatku akhirnya kembali berdiri. (ah alay kali). kau mungkin tertawa jika tau kalau aku sedang mengambil tisu saat mengetik ini, tapi jujur saja, aku tak kuasa, menahan setiap air mata bilasaja aku mengingat, kau yang selalu ada ketika aku sedang lelah dan menyerah kemarin, saat SMA, cukuplah kau duduk didekatku tanpa sepatakata, hingga waktu berlarut dan aku tak lagi kalut. mungkin seperti itulah mereka bilang, kalau, ada beberapa hal tak pernah bisa digantikan, seperti kau dan ilham 🙂

aku takkan buat tulisan ini untuk mendeskripsikanmu, biar mereka yang baca berpikir untuk memilih, akan bertanya tentangmu atau tidak, syukur jika iya, maka akan ku persilahkan untuk mencari dan mengenalmu dengan cara mereka sendiri. pun hari ini, aku percaya kau telah melengkapi mereka-mereka yang lain lagi dibuku harianmu, tak apa itu baik, baik sekali, akupun sama. semoga mereka yang melengkapi kita tak pernah mampu menggantikan kita.

qo, kau sedang apa ? baiklah selalu, cantik dan sehatlah selalu, besok lusa ketika kita sudah boleh berjumpa aku ingin mendengar lebih banyak lagi bagaimana caranya kau membuat “pembuangan sampah” menjadi rumus aritmatika hahah. sampaikan salamku pada dinding kamarmu, semoga perjumpaan denganku, disumpah profesiku adalah salah dari satu hal yang harus kau penuhi 2 3 tahun lagi 🙂

—————————————————————————————————————————————

qo am, ini sudah terlalu panjang, besok lusa, bolehlah kita sambung lagi ya, saat sudah bertoga, atau mungkin ketika sudah berdua hahaha. jika kalian sudah membacanya, tak perlu berbuat apaapa, jika sempat kirimkan aku alfatihah, doakan aku selalu seperti maya 5 10 tahun yang lalu, yang akan lebih sabar bukan tambah lebar, yang akan lebih kuat bukan tambah sekarat, yang dapat lebih bersyukur bukan tambah malah kufur. dan terakhir,

biarkan aku merindu kalian lebih banyak lagi, seperti malam ini 🙂

-bengkulu,190218-

 

Malam

Gulita menyising malam
Bersama bulan bermain peran
Kabar datang dari bawah pohon pinang
Seorang jejaka sedang bergumam

Haihai kawan kau siapa
Menyentuh hati tanpa sapa
Haihai kawan kau darimana
Duduk bertekuk tak mau pindah

malam kian temaram
Ocehan kunang bersemayam
menyelimuti dia yang mulai terlelap disamping sang jejaka yang lelah bersandiwara

Haihai kawan kau siapa
Inginkah kau memeluknya ?
mendesirkan sebuah kata manja
Bahwa esok langit cerah
agar sang jejaka belajat jumawa
Atas hatinya yang terlalu malu menangtang dunia

Asoka didepan sekolah

Dibawah atap sekolah
Asoka memanggil
Mengajak bermain air

Asoka memanggil puan
Katanya, airnya dingin menggembirakan
Airnga dingin menenangkan

Dibawah atap sekolah
Si Puan bergeming
Menutup setengah mata
Menyahuti rintikkan
Jatuhan hujan dalam pelupuk matanya

Dibawah atap sekolah
Asoka kian gembira
Lihat puan kini tertawa
Dalam sekali matanya dihanyut angin lembah
Lepas semua sangka tak berfaedahnya
buat puan turut gembira, suka cita

Dibawah atap sekolah
puan pun melangkah
Turut bergelut dalam nuansa
tertawa bersama asoka
Melepas lelah..

Puan malu merindu

Bicara rindu
Puan malumalu..
Tangan mungilnya
Menengadah, mengadu

Bicara rindu
Puan terisak sendu
Masihkah Tuan memakai kaos biru
Tuan juga menunggu

Jemu tangis tak ditepis
Puan larut kalut tak surut
Mengapa waktu kian tega
Menelan jarak terlalu dalam
Menusuk palung dada kanan, menyakitkan puan

Entahkah Tuan jua mengadu
Entahkah Tuan masih dalam ragu
Sampai hati seperti enggan lagi bertemu

Tuan dan Puan masih dalam genggam diam
Yang saling mendendam riwayat lalu
Perihal gelas dan kertas yang kini tabu untuk disentuh

Tuan jangan lah pulang kerumah
Biar Puan mati dalam tanyanya
tanpa perlu tahu Tuan tlah lama berlalu pada gadis berkerudung biru..

Bicara rindu
Sampai usia membuka pembatasnya..
Puanku takkan luntur layu
takkan lelah menunggu..

puisi belum berjudul

aku menuliskan puisi ini setelah makrab kelas, makrab kali ini ga banyak yang dateng, rada sedih karena pas aku bisa makrab, giliran kawan-kawanku yang banyak ga bisa hahah. tapi tak apalah. puisi ini memang tidak berarti apaapa, tapi untuk yang tidak dapat banyak berbicara sepertiku, sudah agak lebih dari cukup menyampaikannya lewat sepuluh dua puluh bait haha.. aku tidak pernah memaksa kalian untuk mengerti maknanya pun hanya untuk membacanya. itu saja !! (oh ya, sampai sekrang dia tak berjudul, belum tahu mau dikasih judul apa)

(…………)
Puan duduk diserambi
Bersanding dengan lagu cinta masa kini
Lirik dan lagunya tak betul kawin
Tapi membuat pecintanya tak dapat pangling

Puan duduk termangu
Memperhatikan dia yang sedang merangkul erat tongkat ajaibnya
suara manisnya terlalu lezat
Untuk ratu panggung malam ini..

Hentakkan jari pada gitar
Menggetarkan sisa kopi dipinggir meja
Membuat puan menghentikan bacaannya
mengintimkan diri dalam bincang asmara mereka

Senandung mereka kian larut dalam malam
Kian pekat langit, semakin sengit rasa cintakasih
Mulai satu dua bertanya,
Bagaimana jika besok kita tak duduk serapat ini ??

Langit semalam tak banyak campur tangan
Mempersilahkan keluh kesah mengawan bebas tak pulang lagi
soal cinta yang kandas
Soal ujian yang tak kunjung lekas
Ataupun cinta dalam diam yang mulai hilang bekas
Mereka mengacuhkan diri
Dan Membantingkan diri dalam tawa dan nyanyi

Puan mulai terasuki
Yang kemarin membataskan diri kini mulai memahami
Sesekali membuka kunci
Untuk enampuluh nama lagi yang sedang ingin mampir dan memberi arti

Puan mulai menangis kecil
Bagaimana teganya waktu terlalu rapih pergi
Tapi tak semua kunjung menyadari

Puan melirik kekanan
diantara gemerlap cerca dan pujian
Dia melihat tuantuan dan puanpuan lain sedang bermesraan
Merajut yang pernah kusut
Agar dapat membalut harihari yang pernah dan akan kian kalut

Puan mulai menjentikkan kuku,
Mengajak imajinasinya berdiskusi
Bagimana jika syair ini kita tuangkan sekali lagi ??
Menelannya diakhir tegukkan kopi
Untuk sebentar melihat kekiri
Bahwa Dulu kita pernah sebahagia ini
Dan, semoga tak cepat pindah hati..

Kawan, puan bilang
Waktu akan terus tega
Pun jarak takkan pernah melembutkan diri
Sejatinya pertemuan adalah penanda
Untuk memilih dua perkara
Kau, akan menjadi teman hidupku atau teman yang pernah ada dihidupku..

Selamat malam…